Soal Lagu “Mas Bahlil Ganteng”, Idrus Marham : Jangan Antikritik terhadap Kreativitas Publik

Waketum Partai Golkar Idrus Marham (kiri)/sriwijayamedia.com-adjie

sriwijayamedia.com – Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar Idrus Marham menanggapi santai kemunculan lagu “Mas Bahlil Ganteng” yang ramai viral di media sosial. Idrus mengatakan, hal tersebut merupakan kreativitas masyarakat yang tidak perlu disikapi secara berlebihan selama tidak menyentuh isu sensitif.

Menurut Idrus, Ketua Umum (Ketum) Golkar Bahlil Lahadalia juga memandang fenomena tersebut sebagai bagian dari dinamika demokrasi dan kreativitas publik.

Bacaan Lainnya

“Kita tidak bisa melarang bagaimana kreativitas masyarakat dan lain-lain sebagainya,” kata Idrus, kepada wartawan, di Jakarta, Kamis, (28/5/2026).

Idrus menambahkan, Ketum Partai Golkar Bahlil Lahadalia memilih menanggapi fenomena tersebut dengan santai.

Bahkan, seorang politisi justru perlu menjadi perhatian publik.

“Pak Bahlil Ketum Golkar kalau ada hal seperti itu ketawa-ketawa aja. Bahkan dalam beberapa pernyataannya, kalau kita politisi tidak viral berarti kita tidak jadi perhatian,” ujarnya.

Idrus mengatakan, Bahlil bersyukur masih menjadi perhatian masyarakat. Karena itu, ia meminta persoalan tersebut tidak perlu diperdebatkan secara serius.

“Syukurlah masih ada yang memperhatikan kita. Jadi ini saja, enggak usah ditanggapi kalau dalam arti itu adalah kreativitas,” tuturnya.

Meski demikian, Idrus mengingatkan bahwa kreativitas tetap harus dimaknai secara tepat dan tidak mengandung unsur yang dapat memicu persoalan sensitif di masyarakat.

“Tinggal bagaimana memaknai kreativitas itu. Itu penting, memaknai kreativitas itu,” paparnya.

Dia juga menilai respons seseorang terhadap sebuah karya kreatif biasanya bergantung pada posisi dan dampak yang dirasakan masing-masing pihak.

“Ada yang diuntungkan tentu agak marah-marah. Yang diuntungkan ketawa-ketawa. Tapi Pak Bahlil mau diuntungkan, mau diapakan, tetap menghargai kreativitas seperti itu dan tentu tidak boleh kita marah,” ucap Idrus.

Menurut Idrus, dalam negara demokrasi masyarakat memiliki ruang untuk berekspresi.

Namun, ia menegaskan ada batas yang tetap harus dijaga.

“Karena kreativitas negara demokrasi. Yang penting itu tidak dikaitkan hal-hal yang lebih sensitif. Misalkan rasial dan macam-macam itu enggak boleh,” tegasnya.

Idrus mengatakan, Bahlil juga menganggap polemik tersebut tidak perlu terlalu dipikirkan.

“Jadi kenapa lo pusing? Itu kata Pak Bahlil,” pungkasnya. (Adjie)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *