sriwijayamedia.com – Ketua Komisi I DPR RI 2010-2017 Mahfuz Sidik memprediksi kawasan Indo Pasifik atau wilayah Laut Cina Selatan akan menjadi spot perang baru, usai perang di kawasan Timur Tengah (Timteng) atau Teluk Persia berakhir.
Karena itu, Indonesia perlu segera memitigasi dengan menetapkan posisi strategi geopolitiknya, agar tidak salah langkah dan tetap menjaga kepentingan nasionalnya.
Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia itu, di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).
“Indonesia secara langsung atau tidak langsung akan ada dalam pusaran konflik itu, jika perang berkembang ke wilayah Indo Pasifik,” kata Mahfuz Sidik.
Menurut dia, secara geografis Indonesia berada di tengah-tengah kawasan Indo Pasifik, sehingga pemerintah perlu bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.
Kawasan Indo Pasifik bakal dijadikan spot perang baru, lanjut Mahfuz, dapat dilihat dari usulan dari Amerika Serikat (AS) terkait izin lintas udara (overflight clearance) atau akses menyeluruh (blanket) bagi pesawat militer AS di wilayah udara Indonesia.
“Permohonan ini diyakini sangat terkait dengan situasi yang semakin memanas di kawasan Indo Pasifik atau lebih tepatnya di kawasan Laut Cina Selatan,” terangnya.
Mahfuz mengungkapkan, banyak pihak yang mencoba menarik benang merah atau korelasi antara eskalasi perang di Teluk Persia ini dengan perluasan spot perang baru di kawasan Indo Pasifik .
Selain itu, digelarnya latihan perang bersama antara militer Amerika, Filipina dan Jepang di kawasan tersebut, juga bisa menjadi indikasi adanya ketegangan politik di kawasan Indo Pasifik yang semakin meningkat.
“Apalagi Amerika Serikat telah menetapkan, bahwa kawasan Indo Pasifik, jadi kawasan paling utama bagi peta politik luar negeri mereka, bukan Timur Tengah, bukan juga Eropa,” imbuhnya.
Mahfuz mengatakan, perang di kawasan Teluk Persia akan memasuki fase ketiga dengan keterlibatan aktor baru dalam perang antara Iran melawan AS-Israel.
Aktor baru tersebut, antara lain Rusia dan Cina. Diketahui, Rusia dan Cina membantu Iran dalam persenjataan dan memberikan bantuan lain, meskipun tidak mengirim pasukan secara langsung.
“Amerika kemudian membalasnya dengan memblokade Selat Hormuz. Armada Angkatan Laut Amerika mulai merazia dan menyandera kapal-kapal Iran yang mengangkut minyak dari Teluk Persia, yang diduga berlayar ke kawasan Indo Pasifik,” paparnya.
Bahkan ada indikasi, bahwa Amerika akan memperluas Razia kapal-kapal Iran di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Amerika menginginkan agar Iran tidak lagi menjual dan mengirim minyaknya ke Cina.
“Bagi Cina selama kepentingan utamanya supply chain energi (rantai pasok energi) yang dibutuhkan Cina ini tidak terganggu, maka Cina tidak akan bereaksi keras,” jelasnya.
Jika rantai pasok energi mereka terganggu, menurut dia, Cina akan mengirimkan armada kapal tempurnya untuk mengawal suplai energi dari Teluk dari Iran ke Cina agar tidak terganggu.
“Kalau sikap defensif dari Cina kuat untuk mengamankan kepentingannya di jalur Selat Hormus, maka akan memicu kontak secara langsung antara militer Cina dengan militer Amerika,:” katanya.
Apabila ini terjadi, lanjut Mahfuz, maka Presiden AS Donald Trump akan langsung melakukan perluasan razia, tidak hanya menyandera kapal-kapal Iran saja.
Tetapi, Amerika juga akan menyandera kapal-kapal kargo dan tanker Cina yang keluar masuk pelabuhan Iran maupun di berbagai wilayah perairan lainnya.
“Maka ketika aktor baru yang bernama Cina terlibat secara langsung dan nyata dalam konflik dengan Amerika, baik di Kawasan Teluk Persia maupun di kawasan lainnya. Maka spot perang baru di kawasan Indo Pasifik tercipta,” pungkasnya. (Adjie)









