Plt Asisten II Setda Sumsel Hadiri Rapat Teknis Rencana Program Kerja

IMG_20220330_095000

Palembang, Sriwijaya Media – Pelaksana Tugas (Plt) Asisten II Bidang Ekonomi Keuangan (EKeu) dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Sumsel Ekowati Retnaningsih menghadiri kegiatan rapat teknis kesepakatan rencana kerja program dan kegiatan tahun 2023 yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumsel, di ballroom Whyndam Hotel Komplek OPI Mall Palembang, Selasa (28/3/2022) malam.

Rapat teknis ini mengambil tema “Peningkatan Produksi dan produktivitas pertanian melalui peran sub sektor tanaman pangan dan holtikultura menuju Sumsel Maju Untuk Semua”.

“Rapat teknis ini dilaksanakan setiap tahun untuk menyusun perencanaan program kegiatan tahun berikutnya. Jadi kawan-kawan ini sudah menyusun program dan kegiatan untuk tahun 2023 supaya lebih efektif. Untuk unggulannya tetap tanaman pangan, yakni padi, jagung dan kedelai (pajale),” ujar Ekowati.

Sementara untuk holtikultura berupa cabe, bawang merah, dan jeruk. Dalam rapat teknis ini.akan digali terlebih dahulu permasalahannya, sekaligus mengevaluasi program tahun lalu.

“Setelah digali permasalahan, potensi apa yang bisa digerakkan untuk mengatasi masalah itu,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Holtikultura Sumsel RB Pramono menambahkan rapat teknis ini menyepakati  rencana program kerja dan kegiatan tahun 2023 guna menyusun kesepakatan antara Dinas Pertanian kabupaten/kota dengan Bappeda 17 kabupaten/kota dengan provinsi.

Tujuannya adalah untuk mensinergikan program dan kegiatan prioritas yang akan dilakukan ditahun 2023.

“Diharapkan kabupaten/kota baik dari Dinas Pertanian ataupun Bappeda mempunyai pemahaman sama, mempunyai rencana sama, mempunyai gerak langkah yang sama untuk melakukan program-program prioritas ditahun 2023. Intinya untuk menuju kepada target produksi tahun 2023, kita mengevaluasi rapat kerja daerah tahun 2021,” jelasnya.

Dia mengaku target produksi pada tahun 2021 belum bisa tercapai, karena adanya musim hujan yang cukup tinggi. Sehingga curah hujannya diatas normal yang menyebabkan lahan-lahan lebak tidak bisa melakukan penanaman.

Sehingga di tahun 2021, kita mengalami penurunan produksi, dibandingkan pada tahun 2020. Untuk penurunan produksinya sendiri sampai dengan 190 ribu ton, sehingga sangat tinggi sekali.(ton)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *