sriwijayamedia.com– Forum Zakat (FOZ) bersama Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menggelar Leaders Talk 2026, di The Tower BSI Gatot Subroto, Rabu (10/6/2026).
Mengusung tema “Menguatkan Kolaborasi Zakat Nasional untuk Wujudkan Indonesia Berdaya”, forum ini menjadi momentum strategis dalam menyatukan arah gerakan zakat nasional berbasis kolaborasi dan integrasi.
Sebanyak 89 lembaga anggota FOZ turut hadir dalam forum yang berlangsung guyub dan khidmat tersebut. Sejumlah pemangku kepentingan utama turut memberikan pandangan strategis, termasuk Ketua BAZNAS RI Dr Ir H Sodik Mudjahid, M.Sc., yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dalam mengoptimalkan potensi zakat nasional.
“Potensi zakat Indonesia mencapai sekitar Rp340 triliun, namun realisasinya masih sekitar Rp44 triliun. Kolaborasi SDM, jaringan, serta integrasi data muzakki menjadi kunci untuk meningkatkan capaian tersebut,” ujarnya.
Kolaborasi juga diperkuat melalui sinergi dengan sektor perbankan syariah.
Bank Syariah Indonesia (BSI) menyatakan komitmennya dalam mendukung digitalisasi pengelolaan zakat, termasuk pengembangan pusat digital yang dapat dimanfaatkan oleh BAZNAS daerah dan Organisasi Pengelola Zakat (OPZ).
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas pengelolaan dana zakat.
Sekretaris Umum POROZ Angga Nugraha menegaskan bahwa langkah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) menjadi tonggak penting dalam menyatukan gerakan zakat nasional.
“Potensi zakat yang sangat besar membutuhkan kesatuan langkah. MoU ini menjadi pijakan untuk memperkuat sinergi antar-lembaga,” jelasnya.
Dalam sesi keynote, Plt Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko Pemberdayaan Masyarakat RI Dyah Tri Kumolosari, A.KS, M.Si., mengungkapkan bahwa sebanyak 2,2 juta jiwa masih berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem.
Ia menekankan bahwa penguatan kolaborasi zakat menjadi bagian penting dalam strategi pengentasan kemiskinan melalui pendekatan pemberdayaan berbasis data.
“Potensi zakat akan berdampak signifikan jika dikelola berbasis data dan terintegrasi. Fokus intervensi pada desa dan wilayah prioritas harus diperkuat untuk mendorong graduasi kemiskinan,” tuturnya.
Diskursus dalam Zakat Talk turut menyoroti pentingnya menurunkan ego sektoral antar lembaga.
Direktur Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI Prof Dr H Waryono Abdul Ghafur, M.Ag., menegaskan bahwa kolaborasi menjadi prasyarat utama agar zakat dapat dikelola lebih efektif dan berdampak luas.
Sementara itu, Ketua Umum FOZ Wildhan Dewayana memperkenalkan pendekatan dual track activities dalam penguatan zakat nasional, yakni penguatan kinerja internal lembaga serta optimalisasi kinerja kolektif dalam ruang kolaborasi.
Pendekatan ini ditopang oleh empat pilar utama: komunikasi, harmonisasi, integrasi, dan konektivitas ekosistem.
Isu integrasi data menjadi sorotan utama dalam sesi kedua bertajuk Harmoni Gerakan Zakat Melalui Data.
Forum ini menghasilkan komitmen bersama anggota FOZ untuk membangun platform dashboard pendataan zakat nasional.
Penandatanganan nota kesepakatan terkait platform data tersebut menjadi langkah konkret menuju pengelolaan zakat yang lebih terintegrasi.
Ketua Bidang Inovasi dan Literasi FOZ Dr Eko Muliansyah menekankan bahwa transformasi digital zakat tidak lagi berfokus pada pembangunan aplikasi semata, melainkan pada pembangunan ekosistem data bersama.
“Yang dibutuhkan saat ini bukan kesempurnaan sistem, melainkan kesediaan untuk memulai. Data yang terintegrasi akan mengubah tumpukan informasi menjadi lompatan dampak,” imbuhnya.
Melalui Leaders Talk 2026, FOZ, POROZ, dan BAZNAS menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi, integrasi data, serta sinergi program dalam mendorong zakat sebagai instrumen strategis pembangunan kesejahteraan umat di Indonesia.(santi)










