sriwijayamedia.com- Ratusan mahasiswa dari berbagai elemen di Jakarta tergabung dalam kelompok aksi Cipayung Plus Jakarta Selatan menggelar aksi menyampaikan pendapat didepan gedung Kementerian Pendidikan Tinggi Nasional Sains dan Tekhnologi (Kemendiktisaintek) Jakarta, Senin (4/5/2026) siang.
Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang jatuh pada 2 Mei.
Sejumlah kritikan disampaikan oleh perwakilan kelompok aksi, mulai dari program MBG, biaya pendidikan yang tinggi untuk pendidikan berkualitas, dan penghapusan beberapa jurusan di perguruan tinggi.
Massa aksi juga menanyakan kejelasan arah pendidikan di Indonesia yang sering berubah-ubah seiring dengan pergantian periode kepemimpinan.
Dalam orasinya, mahasiswa juga berharap agar kebijakan-kebijakn didunia pendidikan yang dibuat oleh pemerintah dapat dievaluasi dan mendatangkan manfaat yang merata serta berkeadilan diseluruh Indonesia.
Mahasiswa menuntut pendidikan yang berlandaskan konstitusi.
“Kebijakan Prabowo-Gibran yang menggunakan 30% anggaran pendidikan dari APBN jelas melanggar konstitusi. Pemerintah juga seharusnya menyediakan lapangan pekerjaan dengan prodi-prodi yang ada di kampus-kampus”, ujar Ca, salah seorang mahasiswa dari kampus Universitas Nasional (Unas) Jakarta saat berorasi.
Selama aksi berlangsung, saling dorong terjadi antara massa aksi dengan aparat polisi yang berjaga.
Tampak dalam barisan aksi para mahasiswa dari berbagi kampus seperti Universitas Indonesia, Al Azhar, Universitas Pancasila dan elemen kemahasiswaan lainnya seperti HMI MPO, SEMMI, GMNI, LMND, FMN, PMII, PMKRI. UNJ, UNINDRA, Pustara, BEM SI Kerakyatan, Gunadarma, STIAMI, Universitas Trilogi, Esa unggul, hingga Universitas Veteran.
Ditengah hujan deras mahasiswa dari berbagai elemen aksi dan kampus di Jakarta berdialog langsung dengan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Dr Fauzan, M.Pd., untuk menyampaikan berbagai tuntutan dan permasalahan terkait dunia pendidikan.
Pertemuan berlangsung didepan gerbang gedung Kemendiktisaintek, Senayan, Jakarta Pusat.
Dari kelompok Cipayung Plus menyampaikan delapan poin tuntutan, salah satu diantaranya mengenai program MBG yang dinilai hnya sekedar program pendukungnya sehingga tidak seharusnya mengesampingkan pengembangan kemajuan dunia kependidikan Indonesia.
Sementara dari kelompok BEM SI Kerakyatan menyampaikan permasalahan-permaslahna yang terjadi di beberapa perguruan tinggi yang tidak mencerminkan kepribadian dunia pendidikan.
Seperti kasus-kasus pelecehan seksual dan intimidasi profesi dilingkungan internal kampus. Perwakilan dari perguruan tinggi lainnya juga sempat mempertanyakan kebenaran isi penghapusan sejumlah jurusan di perguruan tinggi karena dianggap tidak lagi sesuai.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa yang telah menyampaikan aspirasinya dengan tertib. Tuntutan yang disampaikan merupakan tekad kami bersama. Mari kita jadikan kampus sebagai benteng moral,” kata Wamendiktisaintek Prof Dr Fauzan, M.Pd.
Dia juga meminta mahasiswa tetap menjadi agen kontrol dalam perjalanan dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.
Soal isu penutupan program studi (prodi), Wamen mengklaim kalau itu tidak ada, melainkan penataan yang memberikan penguatan terhadap prodi.
“Komunikasi harus terus intens dilakukan. Ruangan saya pun terbuka untuk mahasiswa,” paparnya.
Usai berdialog para mahasiswa akhirnya meninggalkan lokasi dengan tertib dan damai.(santi)










