sriwijayamedia.com- Deputi Geoekonomi Dewan Pertahanan Nasional (DPN) Dr Yayat Ruyat, M.Eng., melaksanakan kunjungan kerja (kunker) strategis ke Provinsi Sumsel, dengan menghadiri forum diskusi inisiasi DPN, berlangsung di ruang rapat Hotel Novotel Palembang, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan tersebut membahas memperkuat kontribusi strategis provinsi Sumsel dalam mewujudkan swasembada energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasioanal.
Dalam kesempatan itu, Deputi Geoekonomi DPN Dr Yayat Ruyat, M.Eng., menegaskan kunjungan itu untuk meninjau potensi energi daerah serta menyerap aspirasi dari berbagai pemangku kepentingan.
“Kunjungan ini bertujuan menyusun rekomendasi kebijakan energi nasional bagi Presiden, dengan fokus utama pada tantangan transisi energi dan mitigasi potensi konflik sosial di masyarakat,” akunya.
Dalam kunjungannya, DEN menekankan prinsip pengelolaan energi yang berkeadilan dan berkelanjutan. Sumsel dinilai memiliki profil energi yang sangat potensial, khususnya dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan sumber daya alam lainnya.
“Namun, DEN juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat untuk mencegah konflik sosial, sehingga pembangunan infrastruktur energi dapat berjalan secara harmonis,” ujarnya.
Menanggapi masa depan energi fosil, bahwa Indonesia menargetkan pencapaian net zero emission pada tahun 2060. Hilirisasi batubara kunci transisi menuju net zero emission 2060.
Dalam peta jalan tersebut, penggunaan energi fosil seperti batubara akan dikurangi secara bertahap.
DEN menegaskan bahwa penghentian tambang batubara tidak akan dilakukan secara mendadak atau “suntik mati”.
Sebaliknya, produksi akan dipertahankan tanpa ekspansi baru, sambil mengalihkan fokus utama pada hilirisasi.
“Hilirisasi batubara menjadi kunci solusi. Batubara akan diolah menjadi metanol dan etanol untuk mendukung program biodiesel (B50), yang saat ini bahan bakunya masih bergantung pada impor,” ungkapnya.
Selain untuk bahan bakar nabati, teknologi hilirisasi memungkinkan konversi batubara menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM), pengganti LPG, hingga bahan baku pupuk.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah batubara melalui teknologi tinggi, mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, serta memenuhi kebutuhan domestik.
“Implementasi teknologi ini ditargetkan dapat terwujud dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun ke depan. Diversifikasi Energi Bersih dan Pemanfaatan Potensi Lokal,” terangnya.
Sementara itu, Anggota DEN Dr Unggul Priyanto mengingatkan pentingnya belajar dari sejarah penipisan cadangan minyak.
Ia menekankan bahwa batubara tidak boleh mengalami nasib serupa tanpa persiapan pengganti yang matang, sehingga diversifikasi energi menjadi prioritas mutlak.
Ke depan, pihaknya telah menyiapkan berbagai sumber energi, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai energi bersih tanpa emisi CO2.
Khusus untuk Sumsel, ia melihat peluang besar dalam pemanfaatan sumber daya lokal.
Selain batubara, provinsi ini kaya akan sumber air untuk PLTA dan lahan kelapa sawit yang berpotensi dikembangkan untuk energi terbarukan.
“Pemanfaatan optimal sumber daya ini dinilai strategis untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) lokal dalam Transisi Energi,” paparnya.
DEN juga menyoroti aspek SDM, dimana pembangunan fasilitas energi baru diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tenaga kerja lokal.
Dengan meningkatnya jumlah lulusan berpendidikan tinggi di Sumsel, peluang penyerapan tenaga kerja terampil di sektor energi modern terbuka lebar.
Hal ini memastikan manfaat ekonomi dari transisi energi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Kunjungan DEN ke Sumsel ditutup dengan komitmen untuk merumuskan kebijakan yang tidak hanya menjaga ketahanan energi nasional, tetapi juga menjamin keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.(ton)










