Anis Matta Ingatkan 2026 akan Jadi Tahun yang Berat Bagi Indonesia

Ketum Partai Gelora Indonesia sekaligus Wamenlu RI Anis Matta/sriwijayamedia.com-adjie

Sriwijayamedia.com – Ketua Umum (Ketum) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta mengingatkan, bahwa dampak dari ketidakpastian geopolitik global saat ini akan mempengaruhi situasi politik nasional.

“Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengawali satu situasi yang bisa kita katakan, bahwa tatanan dunia lama benar-benar sudah berakhir,” kata Anis Matta, dalam keterangannya, Senin (26/1/2026).

Menurut Anis Matta, PBB sebagai institusi global dan organisasi multilateral lainnya sudah berakhir, dan tidak ada lagi hukum internasional.

“Akan ada satu kondisi tidak terkendali, kekecewaan dan tidak ada penyelesaian yang sistematis. Ujung-ujungnya akan terjadi perang dunia,” ujar Anis Matta.

Dalam proses transisi global ini, lanjut Anis Matta, Amerika Serikat (AS) selaku negara adidaya memberlakukan doktrin baru untuk melindungi keamanan nasionalnya.

“AS ingin mengontrol seluruh benua Amerika, dan wilayah-wilayah lain di dunia agar jalur logistik dan investasi mereka lancar,” imbuhnya.

Rencana penguasaan Greenland, kata Wamenlu Anis Matta, adalah upaya untuk mengeluarkan Rusia dan pengaruhnya dari kawasan tersebut, serta menghambat investasi China.

“Tata kelola dunia yang dulu berbasis pada aturan, sekarang sudah tidak ada aturan, tidak ada hukum internasional,” paparnya.

Anis Matta memprediksi bakal terjadi kekacauan di seluruh kawasan yang bertujuan untuk mendistabilisasi dan merusak iklim investasi China yang masif di berbagai negara.

“Saya kira bagian terakhir sasaran upaya mendistabilisasi ini adalah kawasan Asia Tenggara dan disini ada 10 negara, termasuk Indonesia. Konflik antara Kamboja-Thailand, itu perbatasan dengan China itu baru permulaan,” jelasnya.

Karena itu, Anis menilai tahun 2026 akan menjadi tahun yang sangat berat bagi Indonesia, menjadi tahun pendalaman konflik kawasan.

“Tetapi kalau kita melihat peta Indonesia, maka sesungguhnya masa depan kita adalah Dunia Islam, umat Islam-nya mencapai 2 milyar jiwa,” terangnya.

Anis Matta mengatakan, volume perdagangan Indonesia dengan Dunia Islam, lebih besar dibandingkan dengan China, Eropa dan Amerika.

“Karena itu keterlibatan kita dengan Dunia Islam ini, menjadi sangat penting, termasuk ikut menyelesaikan konflik Somalia-Somaliland,, karena wilayah itu bagian dari distribusi,” ulasnya.

Terkait keterlibatan Indonesia dalam Badan Perdamaian Gaza yang digagas Presiden AS Donald Trump, menurut dia, hal tersebut dalam rangka mencegah konflik Palestina-Israel yang bisa memicu ekskalasi perang dunia.

“Perang 12 hari antara Iran-Israel kemarin, kita sudah kuatir bisa memicu perang yang lebih besar, karena dua-duanya punya nuklir. Iran kita ketahui dekat Pakistan dan Rusia yang juga punya nuklir,” ungkapnya. (Adjie)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *