Aktivis Sebut Pemilu 2024 Antara Harapan dan Keniscayaan

user
Darfian Mahar Jaya Suprana 27 November 2022, 07:30 WIB
untitled

Sriwijayamedia.com - Sejumlah aktivis menyoroti pemilu 2024 yang saat ini sudah mulai ramai diperbincangkan. Para aktivis berargumen kalau pemilu 2024 adalah antara harapan dan keniscayaan.

Ketua Bidang Kepemudaan KAHMI Jakarta Pusat Muhamad Zulfikar Fauzi (35) mengaku pesimistis dengan Pemilu 2024 karena dari pemilu 2019 kesejahteraan rakyat masih belum terangkat, masih banyak dibawah garis kemiskinan dan masih banyak janji para elit politik yang belum terealisasi.

"Kualitas sistem sudah bagus, tapi kualitas individual kader yang belum bagus. Mungkin perlu ada pembenahan sistem bagi parpol dalam mempersiapkan kadernya yang mumpuni. Sekarang ini banyak kecendurangan parpol merekrut kader ‘kutu loncat’, yang hanya dilihat mumpuni," kata Muhammad Zulfikar, Sabtu (26/11/2022).

Menurut dia, generasi muda harus siap berpolitik meski tidak siap. Sekarang ini banyak generasi muda yang potensial, tidak hanya dilingkup RT, tapi juga wilayah.

Peran pemuda ini sangat tinggi, namun sayang tidak terakomodir. Tinggal dikasih ruang dan diakomodir. Parpol harus terjun langsung dan melakukan pendekatan persuasif. Jangan hanya buka pendaftaran anggota baru/caleg.

"Pemilu 2024 adalah pekerjaan kolektif dan KPU punya tanggung jawab yang berat mengingat pemilu akan dilaksanakan serentak. Begitu pun parpol-parpol sebagai peserta pemilu, dan semua aspek terkait mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya untuk menyukseskan pemilu. Jangan sampai pemilu 2024 memiliki cacat," terangnya.

Dalam pemilihan petugas PPKS dinilai sangat riskan karena kepentingan parpol sangat dominan. 

Dia berharap pemilu 2024, para penyelenggara pemilu tetap solid. Karena tanggungjawabnya sangat berat, terutama di Jakarta sebagai miniatur Indonesia.

Begitu pun KPU dan seluruh penyeleggara negara juga harus objektif. Pimpinan KPU, Bawaslu dan seluruh perangkat di ibukota perlu sinergitas dan solid, jangan sampai ada kepentingan parpol yang justru menghambat jalannya pemilu itu sendiri.

Setali tiga uang, Penasihat Semangat Kebaikan Relawan Indonesia (SKRI) Ronald (47) menambahkan di tahun 2024, SKRI memastikan diri untuk kembali berkiprah dalam politik, yakni siap memberikan dukungan solid kepada figur yang ditunjuk Jokowi nanti.

Selain itu, SKRI merasa harus mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya sesuai hati nurani, namun jangan menggunakan politik identitas. Inilah target utama yang hendak dikerjakan SKRI pada pemilu 2024 nanti.

Dia menganggap kiprah ini sangat penting mengingat 2024 pemilu dilaksanakan secara serentak atau berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Sehingga tingkat kerawanan keamanan dan potensi pelanggarannya pun sangat tinggi.

"Salah satu yang harus diwaspadai dan ‘lawan’ adalah munculnya istilah politik identitas yang begitu memperuncing perbedaan sara dan membantu sosialisasi proses pemberian suara pada saat hari H pemilu kepada masyarakat luas. Seperti pemahaman penggunaan surat suara dan sebagainya," jelasnya.

SKRI berharap hanya ada dua pasangan capres/cawapres yang nanti muncul di pilpres 2024 karena lebih simple.

Sementara itu, Ketua Bunda Kanduang Jakarta Utara Ermawati (48) melanjutkan Pemilu ditahun 2024 yang diadakan secara serentak, diharapkan tidak banyak pelanggaran. Terpenting bisa terselenggara secara bersih dan melahirkan pemimpin jujur dan adil.

Terpisah, Ketua Umum Front Betawi Bersatu (FBB) Meidiana Fauzi Datuk (64) memaparkan  saat Pilgub DKI Jakarta di 2014 yang dimenangkan oleh pasangan Jokowi-Ahok, saat itu dari 165 ormas yang bergabung didalam Bamus Betawi, hanya FBB yang memberikan dukungan penuh pada pasangan Jokowi-Ahok.

Dukungan terhadap Jokowi pun berlanjut hingga Pilpres dan sampai saat ini. Kesolidan dukungan terhadap Jokowi merupakan komitmen FBB.

Namun untuk 2024, FBB belum mau menentukan arah dukungan karena ingat pesan Jokowi yang mengatakan : “Ojo kesusu”. Karena itu, saat ini FBB mempersilakan anggotanya untuk bergabung ke kelompok pendukung Ganjar, Puan, Eric Tohir dan Andika.

"Secara umum mayoritas anggota FBB masuk kedalam PDIP dan mayoritas saat ini lebih pro untuk mendukung Ganjar Pranowo. Sehingga diyakini tongkat komando PDIP nantinya adalah ke Ganjar tidak mungkin diberikan ke NasDem (Anis)," imbuhnya.

Dukungan tidak ke Puan Maharani, karena Puan dianggap belum siap. FBB aktif dalam menyukseskan pemilu dan selalu ambil bagian untuk turut menyadarkan masyarakat luas agar menggunakan hak pilihnya.

Untuk pemilu 2024, Jokowi memberi masukan nama Ganjar Pranowo. Makanya ‘kaki-kaki’ FBB banyak yang masuk di kubu pendukung Ganjar, ada yang masuk kedalam elemen GANJARIS dan Sobat Ganjar.

"Alasannya karena basic Ganjar cukup mumpuni. FBB berharap pilpres 2024 hanya ada dua pasangan capres/wapres supaya lebih simple,” ucapnya.(santi)

Kredit

Bagikan

BERITA TERKAIT