Sekayu, Sriwijaya Media – Pj Bupati Muba Drs Apriyadi, M.Si., mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi Tahun 2022 secara virtual bersama Presiden RI, bertempat di Ruang Rapat Bupati, Kamis (18/8/2022).
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Pj Sekda Muba H Musni Wijaya, S.Sos., M.Si., Kepala BPS Muba Trio Wira Dharma, S.ST., MM., Kepala Dinas Ketahanan Pangan H Ali Badri, ST., MT., Kepala Dinas TPHP Muba Ir A Thamrin, Kepala BPKAD Muba H Zabidi, SE., MM., Kepala Disperindag Kabupaten Muba Azizah, S.Sos., MT., Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Muba Ir Zulfakar, M.Si., Kabag Kerjasama Setda Muba Dicky Meiriando, S.STP., MH., Kabag Perekonomian Setda Muba Muhamad Aswin, S.STP., MM., serta BP2RD Muba.
“Muba telah menyiapkan skenario untuk penanganan inflasi dengan melibatkan berbagai stakeholder. Termasuk menggencarkan program kemandirian pangan yang di inisiasi pak Gubernur Herman Deru yang diyakini ampuh dalam pengendalian inflasi di daerah,” ucap Apriyadi.
Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo menyampaikan kepada para menteri agar tidak bekerja secara standar.
Menurut Jokowi, kondisi saat ini dinilai tidak normal.
“Oleh sebab itu, kita tidak boleh bekerja standar, enggak bisa lagi. Karena keadaannya tidak normal. Kita tidak boleh bekerja rutinitas karena memang keadaannya tidak normal, tidak bisa kita memakai standar-standar baku, standar-standar pakem, ga bisa,” tegas Jokowi.
Jokowi meminta para menteri dan kepala daerah agar tidak bekerja sesuai rutinitas. Namun, juga harus memperhatikan faktor makro dan mikronya.
“Para menteri, gubernur, bupati, wali kota juga sama, gak bisa lagi kita bekerja rutinitas, engga bisa. Bekerja hanya melihat makronya saja engga bisa, gak akan jalan, percaya saya. Makro dilihat, mikro dilihat lebih lagi harus detil juga dilihat lewat angka-angka dan data-data karena memang keadaannya tidak normal,” tutur Jokowi.
Jokowi juga menekankan kembali bahwa saat ini Indonesia dan negara lainnya berada dalam situasi yang tidak mudah dan dinilai sangat sulit.
“Dimulai dari pandemi yang belum pulih dan beberapa negara saat ini masih berada pada angka yang tinggi kemudian muncul perang, muncul krisis pangan, muncul krisis energi, muncul krisis keuangan, inilah yang saya bilang tadi keadaan yang sangat sulit,” tandasnya.(Berry)