Puisi : Lima Tahun Rindu yang Tak Pernah Pudar

Akademisi FH Unsri & Konsultan Hukum Zahrawain Consulting Ardi Muthahir, SH., MH., Bin Bustomi Muthahir/sriwijayamedia.com-ist

Oleh : 

Ardi Muthahir Bin Bustomi Muthahir, Putra Muara Lakitan dan Tanjung Ning

Bacaan Lainnya

 

Papa

Lima tahun rupanya telah lewat

Aku tidak pernah sanggup memindahkan rindu

Aku rindu papa

 

Masih kuingat ruang itu

Ruang yang penuh bunyi asing

Mesin yang bernafas menggantikan do’a manusia

Lampu putih yang terlalu terang

Seolah–olah takut gelap mengambilmu diam–diam

 

Aku ingat saat langkahku terseret bersama anakmu nomor 2 yang ulang tahun

Menyusuri lorong sunyi berbalut pucat senja

Tempat nafas terakhirmu berpamitan pada dunia

Hanya bisa melihat garis datar disampingmu

 

Diatas ranjang berselimut dingin ICCU

Kulihat tubuhmu yang biasa hangat mendadak beku jadi batu pualam

Hening tak bertepi

Saat aku menatap garis lurus pada layar yang mencuri jiwamu

Hari itu, separuh langitku runtuh tanpa suara

 

Didepan ruang itu

aku kehilangan bukan hanya papa

tapi seluruh arah hidupku

Kompas patah

Sorot lampu padam

Panggung menjadi gelap gulita

 

Tapi di balik luka ini, Papa

Aku tahu kau tak benar-benar pergi

Kau hanya pindah ke kursi sutradara surgawi

Dari sana kau masih mengarahkan aku

dengan cara yang lebih halus

Melalui mimpi, melalui firasat, melalui kekuatan yang tiba-tiba datang

saat aku hampir menyerah.

 

Cerita-cerita positif yang kau tebar tentangku

Kini menjelma menjadi benteng yang melindungiku saat aku rapuh

Setiap pujian yang pernah kau ucapkan ke telinga sahabatmu

Kini menjadi warisan paling megah, lebih berkilau dari emas permata

 

Anak yang dulu menangis di sisi jasad kakumu di ICCU

Kini berdiri sebagai saksi hidup dari cinta agung yang kau semai

Hingga saatnya langit mempertemukan kita kembali

Kebanggaanmu akan tetap menjadi jubah yang kukenakan dengan setia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *