Mahasiswa Siapkan Rencana Aksi Reformasi Jilid II, Ditarget Agustus Nanti

Gelombang aksi unjuk rasa dari berbagai elemen mahasiswa terjadi sejak 12 Juni 2026 lalu disejumlah kota besar di Indonesia menentang kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai membebani rakyat/sriwijayamedia.com-santi

sriwijayamedia.com- Isu reformasi jilid II kian santer terdengar dan menjadi bahan pembicaraan publik belakangan ini.

Terlebih dengan adanya ketidakstabilan ekonomi semakin memicu munculnya gelombang aksi unjuk rasa diberbagai daerah yang dilakukan oleh mahasiswa.

Tidak hanya mengkritisi kenaikan harga-harga, tapi juga berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Menyikapi hal itu, salah satu pengurus Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Provinsi Jawa Tengah (Jateng)-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Gema Bilal membenarkan gelombang aksi mahasiswa secara serentak telah terjadi diberbagai daerah.

Terakhir, HMI Provinsi Jatemg-DIY menggelar aksi dan konsolidasi pada 19 Juni lalu, diikuti oleh enam cabang HMI Provinsi Jateng-DIY.

Mengingat jarak yang berjauhan, maka agar konsolidasi dan aksi tetap berjalan para pengurus memanfaatkan jalur online dan offline sekaligus.

“Kita fokus aksi dan konsolidasi di Jateng saja. Ada 6 cabang yang mengikuti konsolidasi secara online karena terlalu jauh jika dilaksanakan melalui darat,” jelas Gema, melalui selulernya, Minggu (21/6/2026).

Permasalahan ekonomi dan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi isu strategis utama yang dibahas.

Mahasiswa menargetkan puncak aksi akan terjadi pada bulan Agustus 2026 nanti.

Konsolidasi dan aksi dilapangan terinspirasi dari peristiwa yang terjadi di Nepal belum lama ini. Dimana gerakan kaum muda yang menginginkan adanya perubahan mampu merubah keadaan dengan menjatuhkan rezim yang berkuasa.

“Sebagai gerakan kaum muda kami menargetkan puncak aksi pada bulan Agustus 2026 nanti. Istilah Nepal-kan Indonesia mengambil inspirasi dari gerakan anak muda di Nepal yang berhasil menurunkan pemimpin negaranya,” imbuh mahasiswa lulusan Universitas Negeri Semarang (UNS).

Menguatnya mata uang USD yang terjadi diberbagai negara, termasuk Indonesia sebagai salahsatu dampak akibat perang Amerika-Iran.

Namun gejolak ekonomi yang terjadi di Indonesia tentunya berbeda dengan negara-negara lainnya akibat pengaruh dari situasi domestik.

Untuk menghindari terjadinya sabotase paska peristiwa reformasi seperti halnya pada tahun 1998, HMI cabang Jateng-DIY secara berkala melakukan evaluasi dan diskusi.

Sejauh ini, kata Gema, belum ada koordinasi murni dari masing-masing OKP.

Reformasi jilid II memang merupakan tajuk aksi dan menjadi isu besarnya. Namun yang namanya reformasi butuh proses panjang dan penuh kehati-hatian.

Sebab tuntutan untuk pergantian rezim juga tidak bisa terjadi secara tiba-tiba dan butuh jalinan komunikasi sesama komunitas mahasiswa beserta tokoh elit nasional.

Dalam setiap aksi yang dilakukan, mahasiswa di Jateng berusaha untuk tidak terpancing kericuhan demi menghindari jatuhnya korban jiwa.

“Belum ketemu tokoh elitnya siapa, sebab kita juga harus siap dengan apa yang terjadi. Kami selalu berupaya agar aksi tidak ricuh, sehingga harapan kami pada puncak aksi nanti tidak perlu ada yang berdarah-darah,” papar Gema.

Gelombang aksi unjuk rasa dari berbagai elemen mahasiswa terjadi sejak 12 Juni 2026 lalu disejumlah kota besar di Indonesia. Seperti Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Medan, Balik Papan, Makassar, dan sebagainya.

Aksi tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat yang menuntut pemerintah untuk segera menurunkan harga-harga termasuk BBM, melakukan efisiensi anggaran APBN, menghentikan program MBG dan KDMP serta mengembalikan supremasi sipil. (Santi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *