Sriwijayamedia.com– Menjelang perayaan ibadah Natal dan Tahun Baru 2025, Ketua Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Ustadz Edy Lukito mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat di Jawa Tengah (Jateng).
Ia mengajak umat Islam dan warga lintas agama untuk bersama-sama menjaga kondusifitas, keamanan, dan suasana damai di ruang publik maupun di lingkungan tempat tinggal.
Menurut Ustadz Edy, momentum Natal dan Tahun Baru bukan hanya milik satu kelompok agama, melainkan menjadi ujian kedewasaan bagi seluruh masyarakat dalam menjaga harmoni sosial.
Di tengah menguatnya arus informasi dan potensi provokasi di media sosial, ia menilai perlu ada sikap saling menghormati dan memperkuat budaya dialog antarwarga.
“Saya mengimbau seluruh warga Jateng, khususnya di wilayah Surakarta dan sekitarnya, agar ikut berperan aktif menjaga keamanan dan kenyamanan menjelang dan selama perayaan Natal serta Tahun Baru 2025. Natal merupakan momen ibadah yang sangat penting bagi saudara-saudara kita umat Kristiani. Sebagai sesama anak bangsa, kita wajib menjaga agar ibadah mereka berjalan dengan tenang, tertib, dan tanpa gangguan,” ujar Ustadz Edy Lukito, dalam keterangan pers di Surakarta, Selasa (16/12/2025).
Ia menegaskan, komitmen menjaga kerukunan antarumat beragama bukan berarti mengurangi keyakinan masing-masing, namun justru menjadi wujud nyata penerapan ajaran agama tentang akhlak mulia dan sikap saling menghormati.
“Dalam Islam, kita diajarkan untuk menjaga tetangga, menjaga hak orang lain, dan menghindari perbuatan zalim. Sikap itu harus tercermin juga dalam cara kita menyikapi perbedaan keyakinan, terlebih pada momentum hari besar keagamaan,” terangnya.
Ustadz Edy juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh kabar bohong, ujaran kebencian, maupun narasi yang berpotensi memecah belah persatuan.
Ia menilai, menjelang akhir tahun, biasanya banyak isu sensitif yang beredar dan sengaja dimainkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Saya mengajak warga untuk lebih bijak menggunakan media sosial. Jangan mudah menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya, apalagi jika mengandung unsur provokasi SARA. Cukup kita hentikan di tangan kita, jangan diteruskan. Mari kita jaga ruang digital tetap sejuk dan menenangkan,” tegasnya.
Sebagai Ketua LUIS, Ustadz Edy menyampaikan bahwa organisasinya siap bersinergi dan berkoordinasi dengan aparat keamanan, pemerintah daerah, serta tokoh lintas agama untuk mendukung terciptanya situasi yang kondusif.
Ia menyebut, langkah-langkah preventif dan dialog terbuka dengan berbagai pihak perlu dikedepankan agar potensi gesekan di lapangan bisa diminimalisir sejak dini.
“LUIS siap berkomunikasi dengan aparat kepolisian, TNI, dan pemerintah daerah jika diperlukan, terutama terkait koordinasi di lapangan. Kami juga membuka diri untuk berdialog dengan tokoh gereja, pemuka agama lain, maupun organisasi masyarakat demi menjaga Jawa Tengah tetap damai. Prinsip kami jelas: menjaga ketertiban umum dan mencegah hal-hal yang dapat mengganggu keamanan bersama,” paparnya.
Ustadz Edy mengajak tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, karang taruna, dan komunitas pemuda untuk menjadi garda terdepan dalam mengawal suasana kondusif di lingkungannya masing-masing.
Menurut dia, langkah sederhana seperti mengatur parkir saat ada kegiatan ibadah, membantu mengurai kemacetan, atau sekadar mengingatkan warga untuk tetap tertib, merupakan kontribusi nyata dalam menjaga kerukunan.
“Kita bisa berkontribusi dengan cara yang sederhana namun berdampak. Misalnya, ikut mengawasi lingkungan, menjaga agar tidak ada gangguan terhadap jalannya ibadah, dan menghormati pengaturan yang sudah dibuat aparat keamanan. Jika ada hal-hal yang dirasa mengganggu, sampaikan melalui jalur komunikasi resmi, jangan main hakim sendiri,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam menanamkan nilai toleransi kepada generasi muda. Orang tua, pendidik, dan tokoh agama diminta memberikan teladan dalam bersikap santun dan menghargai perbedaan, sehingga narasi kebencian tidak mudah menguasai cara pandang anak-anak dan remaja.
“Anak-anak dan remaja kita adalah pengguna aktif internet dan media sosial. Mereka sangat mudah terpapar berbagai konten, baik yang positif maupun negatif. Karena itu, tanggung jawab kita bersama adalah menunjukkan sikap yang menyejukkan, agar mereka melihat bahwa perbedaan itu bisa disikapi dengan dewasa dan beradab,” paparnya.
Di akhir pernyataannya, Ustadz Edy Lukito mengajak seluruh warga Jateng menjadikan akhir tahun ini sebagai momentum memperkuat persaudaraan kebangsaan.
Ia menegaskan, kedamaian tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diupayakan bersama melalui sikap saling menghormati, gotong royong, dan kepatuhan pada aturan hukum.
“Mari kita wujudkan Jawa Tengah yang aman, damai, dan harmonis. Kita boleh berbeda agama, suku, dan pilihan politik, namun kita tetap satu sebagai warga bangsa Indonesia. Menjaga kondusifitas menjelang Natal dan Tahun Baru 2025 adalah bagian dari ikhtiar kita merawat persatuan dan menghormati konstitusi yang menjamin kebebasan beribadah bagi seluruh warga negara,” pungkasnya.
Ajakan Ustadz Edy ini sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk menjaga wajah Jawa Tengah sebagai provinsi yang religius, toleran, dan rukun di tengah keberagaman.(Santi)









