Opini : Skandal Korupsi Terbesar Sepanjang Sejarah Rp271 T

Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pamulang Andreas Meylando, S.PSi.,/sriwijayamedia.com-irawan

Oleh :

Andreas Meylando, S.PSi., Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pamulang

Bacaan Lainnya

Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan Manager PT QSE Helena Lim (HLN) yang juga dikenal sebagai “crazy rich” Pantai Indah Kapuk (PIK) sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam tata niaga komoditas timah wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah, Tbk., tahun 2015-2022.

Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung Kuntadi menyebut pihaknya turut menelusuri potensi adanya TPPU dalam setiap perkara tindak pidana korupsi yang tengah ditangani.

Terbongkarnya kasus ini menjadi catatan kelam, karena kasus tata niaga komoditas timah menjadi kasus korupsi terbesar sepanjang sejarah yang ditaksir kerugiannya mencapai Rp271 T.

Sebelumnya, ada kasus BLBI Rp 138,44 T ; penyerobotan lahan negara untuk kelapa sawit Rp104,1 T ; pengolahan kondensat ilegal di kilang minyak di Tuban Rp35 T ; pengelolaan dana pensiun PT Asabri Rp22,78 T dan ⁠kasus korupsi PT Jiwasraya Rp16,8 T.

Kronologi kasus korupsi PT timah TBK berkaitan dugaan perjanjian kerja sama fiktif yang dibuat oleh perusahaan boneka guna mengambil biji timah di wilayah Bangka Belitung (Babel).

Tiga petinggi PT Timah yang jadi tersangka Alwin Albar, Moctar Riza Fahlevi, dan Emil Ermindra mengetahui pasukan biji timah yang dihasilkan PT Timah Tbk., ini lebih sedikit dibandingkan perusahan swasta lain.

Karena ada penambangan liar di wilayah IUP PT Timah yang masif bukannya menindak penambangan ilegal, justru 3 mantan bos plat merah ini malah mengajak penambang ilegal untuk kerja sama mengeksploitasi Sumbar Daya Alam (SDA) Indonesia.

Para tersangka membeli hasil penambangan ilegal dengan harga diatas standar yang ditetapkan perusahaan. Jelas eksploitasi SDA berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan merugikan keuangan negara.

Kejagung sudah menetapkan 16 tersangka. Helena Lim dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 56 KUHP

Pasal 2 ayat (1) UU Tipikor menyebutkan setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dipidana dengan pidana penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun dan denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.

Tertangkapnya 16 tersangka yang sudah ditetapkan Kejagung menurut saya masih skala operator dan belum aktor utamanya.

Ini bisa terlihat dari penemuan Kejagung. Dalam penggeledahan di rumah Helena Lim, Kejagung menyita uang Rp 10 miliar dan juga menemukan uang SGD 2 juta atau sekitar 23,3 miliar.

Begitu juga dengan Harvey Mouis, Kejagung telah menyita dua mobil mewah milik Harvey yakni Rolls Royce dan Mini Cooper. Selain itu, sejumlah jam tangan juga turut disita. Adapun, Kejagung juga menyita uang Rp 76 miliar dan logam mulia.

Jika dilihat dari kerugian negara Rp271 T dengan barang bukti yang disita oleh Kejagung sudah cukup bukti bahwa mereka yang ditangkap masih skala operator dan bukan aktor utama.

Semoga pemerintah bisa membongkar kasus ini terutama dengan aktor utamanya ditangkap.(irawan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *