Soal Dana Hibah, Korpus BEM Nusantara Minta Mahasiswa Tak Ikut Gerakan ICW

  • Whatsapp

Jakarta, Sriwijaya Media-Saat polemik alih status pegawai KPK dan issue pelemahan KPK hadir dalam beberapa waktu ini, ICW adalah salah satu LSM yang keras dalam mengkritisi hal tersebut.

Bahkan tidak sedikit organisasi mahasiswa yang juga terhegemoni dengan issue ini. Berbagai cara ditempuh untuk membuat publik melihat seolah-olah kondisi KPK sekarang berada dalam titik akhir pemberantasan korupsi di Indonesia.

Koordinator Pusat (Korpus) BEM Nusantara Eko Pratama dalam pesan singkatnya menyampaikan pandangan berbeda mengenai polemik KPK yang terjadi akhir-akhir ini.

Dia memandang hari ini ICW berhasil membuat framing bahwa Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) itu adalah alat untuk menyingkirkan kelompok Novel Baswedan yang dinilai mereka tidak kooperatif dengan pimpinan KPK.

“Kalau diruntut dari sebelumnya, TWK adalah salah satu amanah dari Undang-Undang No 19/2019, sehingga saya kira ini adalah salah satu cara KPK untuk bertransformasi dari yang dulunya kurang prosedural menjadi lembaga negara yang terintegrasi dengan lembaga-lembaga lainnya,” terang Eko.

Menurut dia, ICW dan kawan-kawan memunculkan stigma bahwasanya yang pro revisi Undang-Undang KPK, pro TWK tidak berpihak pada pemberantasan korupsi.

Disisi lain kelompok Novel dkk mendakwa dirinya sebagai malaikat yang berjuang untuk pemberantasan korupsi di Indonesia.

“Tpi kalau kita ingat kasus-kasus yang lain, dimana kelompok ini juga tebang pilih untuk memberantas korupsi, dugaan kasus penyimpangan pameran buku frankfurt contohnya,” ujarnya.

Soal dana asing yang diterima oleh ICW dan membuat riuh publik, masih kata dia, pihaknya menyimpulkan bahwa pihaknya meragukan bahwa ICW membawa kepentingan nasional dalam issue KPK, karena sudah menjadi rahasia umum, dana-dana internasional itu selalu membawa misi-misi tertentu.

Dia berharap besar agar mahasiswa lebih memperdalam kajian dan tidak terhegemoni arus gerakan ICW.

“Kalau kita mau gerak, kita harus lihat persoalan ini dengan banyak sudut pandang, jangan hanya sudut pandang ICW saja,” jelas Eko Pratama.(irawan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *