Beranda HUKRIM Faktor Ekonomi Jadi Pemicu Terjadinya Penculikan Bocah di Sukabangun Palembang

Faktor Ekonomi Jadi Pemicu Terjadinya Penculikan Bocah di Sukabangun Palembang

1031
0
BERBAGI

Palembang, Sriwijaya Media-Lagi-lagi faktor ekonomi menjadi pemicu pelaku penculikan bocah DI (4) yang sempat viral di media sosial (medsos) beberapa hari ini.

Tak butuh waktu lama pasca viralnya video CCTV penculikan bocah di Sukabangun Palembang itu meluas, anggota Pidum Satreskrim Polrestabes Palembang berhasil mengamankan otak pelaku berinisial SH (38). Pelaku dihadiahi timah panas petugas lantaran hendak kabur dan melawan petugas. Sementara ST (32), pemilik motor yang digunakan SH saat melakukan aksi penculikan juga diamankan tanpa perlawanan. Kedua warga Palembang itu ditangkap di waktu dan tempat berbeda, Sabtu (20/2/2021) malam.

Kapolrestabes Palembang, Kombes Irvan Prawira melalui Kanit Pidum Satreskrim Polrestabes Palembang AKP Robert P Sihombing saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (21/2/2021) membenarkan adanya penangkapan terhadap pelaku penculikan bocah yang terekam CCTV.

“Saat ditangkap, pelaku SH mencoba melawan dan hendak melarikan diri. Terpaksa kita berikan tindakan tegas dan terukur di bagian kaki kanan tersangka,” tutur Robert.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Palembang Kompol Edi Rahmat menambahkan, tersangka nekat menculik korban karena ingin meminta sejumlah uang tebusan ke keluarga korban sebesar Rp 100 juta. Sayangnya, aksi pelaku yang terekam CCTV duluan viral di medsos.

“Pelaku ketakutan karena aksinya terekam CCTV. Pelaku lalu menyerahkan korban ke warga dengan harapan kasusnya selesai. SH sengaja menculik adalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Mungkin karena Covid sekarang sulit, itu yang menjadi alasan pelaku melancarkan aksinya,” terang Kasat.

Rahmat menambahkan, sebulan sebelum aksinya itu, tersangka SH lebih dulu melakukan pengamatan. Sebelum bocah itu ditemukan, pelaku menyekap sang bocah di rumah kosong.

Selain mengamankan pelaku, pihaknya juga menyita barang bukti berupa sepeda motor, helm, jaket dan lainnya.

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 76 F JO pasal 83 Undang-undang RI Nomor 34 tahun 2014 tentang perlindungan anak, dengan ancaman kurungan maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp600 juta.

Dihadapan wartawan, tersangka ST mengaku jika dirinya hanya membantu SH, karena ST membutuhkan biaya untuk istrinya berobat.

”Saya cuma membantu saja karena istri saya lagi sakit. Saya diajak SH untuk bersama-sama melakukan aksi ini dengan meminta uang tebusan Rp100 juta,” ucapnya.(jay)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here