Beranda RAGAM Kasus Positif Covid-19 di Subulussalam Naik 52 Orang, Gugas Minta Warga Lakukan...

Kasus Positif Covid-19 di Subulussalam Naik 52 Orang, Gugas Minta Warga Lakukan Hal Ini

112
0
BERBAGI
Juru bicara Gugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Subulussalam Baginda melaporkan update terbaru pasien Covid-19, Senin (19/10/2020)

Subulussalam, Sriwijaya Media-Gugus Tugas (gugas) Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Subulussalam mencatat kasus positif Covid-19 di Kota Subulussalam kembali bertambah menjadi 52 orang.

Ini berdasarkan surat Kepala Laboratorium penyakit infeksi Universitas Syiah Kuala Nomor 877/PKU/X/2020 tanggal 16 Oktober 2020 yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Subulussalam yang isinya disebutkan telah dilaksanakan pemeriksaan Swan RT-Qpcr terhadap 10 sampel pada dan telah dinyatakan positif covid-19 sebanyak 5 orang.

“Inisialnya S (65), laki-laki, berdomisili di Kecamatan Simpang Kiri dan inisial IH (48), laki-laki, berdomisili di Kecamatan Penanggalan. Lalu, inisial RRU (25), dan, inisial IS (27), keduanya perempuan berdomisili di Kecamatan Simpang Kiri. Serta inisial DM (42), perempuan, warga Kecamatan Penanggalan,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Subulussalam Baginda, SH., Senin (19/10/2020).

Dia melanjutkan riwayat S adalah pasien RSUD Kota Subulussalam yang telah dinyatakan positif sesuai rilis pada 3 Oktober 2020. Pasien tersebut masih dirawat di ruang Pinere RSUD Kota Subulussalam, lalu dilakukan swab test kembali dan ternyata kembali dinyatakan positif covid-19.

Begitupun inisial IH, adalah pasien RSUD Kota Subulussalam berobat jalan, pada 14 Oktober 2020 dirawat di RSUD dengan keluhan demam, nyeri, kepala pusing berputar-putar, mual, muntah, nyeri ulu hati dan dilakukan swab test dinyatakan positif Covid-19.

Inisial RRU dan IS adalah tenaga kesehatan (nakes), merasa dirinya ada kejanggalan maka diminta untuk dilakukan swab test dan ternyata dinyatakan positif Covid-19.

“Inisial DM adalah nakes yang bertugas di Puskesmas Pakpak Bharat, menetap di Kecamatan Penanggalan, yang bersangkutan pernah merawat pasien positif Covid-19. Dia mengalami sakit tenggorokan dan meminta dilakukan swab test dan dinyatakan positif Covid-19,” terangnya.

Dengan penambahan kasus ini, pasien Covid-19 yang terkonfirmasi positif virus corona di Kota Subulussalam per tanggal 17 Oktober 2020 sebanyak 52 orang, dinyatakan sehat sebanyak 39 orang, meninggal 5 orang, isolasi sebanyak 8 orang.

Berdasarkan zonasi warna, masih kata dia, empat level kriteria zonasi daerah berdasarkan warna, sebagai indikator kategori risiko Covi-19 yang dilihat dari tingkatan transmisi atau penyebarannya.

“Penentuan zona pada daerah-daerah tersebut berdasarkan pada pengumpulan data dan kajian maupun analisis dari tim pakar gugus tugas nasional,” ucapnya.

Penentuan zona tadi menggunakan indikator-indikator yang secara total terdapat 15 indikator utama. Diantaranya adalah indikator kesehatan masyarakat, yang terbagi menjadi 11 indikator epidemiologi, dua indikator surveilans kesehatan masyarakat dan dua indikator pelayanan kesehatan.

Adapun level yang pertama adalah zona hijau atau tidak terdampak. Pada level ini, suatu daerah dapat dikategorikan ke dalam zona hijau apabila risiko penyebaran virus ada, akan tetapi tidak ada kasus positif.

Selain tidak ditemukannya kasus postif, penyebaran covid-19 juga terkontrol. Risiko penyebaran tetap ada, namun hanya di tempat-tempat isolasi. Dalam hal ini, pengawasan tetap dilakukan secara ketat dan berkala guna mencegah timbulnya potensi kasus baru.

“Secara implementasinya, pengawasan tetap dilakukan dengan pemeriksaan ketat di semua pintu masuk menuju atau dari daerah yang berstatus zona hijau. Testing secara intensif juga tetap dijalankan termasuk penelusuran kontak agresif jika ada orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang tanpa gejala (OTG),” jelasnya.

Pada daerah dengan zona hijau, beberapa jenis kegiatan seperti belajar mengajar di sekolah, aktivitas perjalanan atau transportasi, bisnis, kegiatan keagamaan sudah dapat dijalankan namun tetap harus memperhatikan standar protokol kesehatan yang meliputi, jaga jarak, memakai masker dan cuci tangan menggunakan sabun.

Seluruh kegiatan di luar rumah tersebut dikecualikan bagi seseorang yang memiliki sakit dengan gejala flu, maka seseorang itu wajib tetap tinggal di rumah.

“Kemudian level kedua adalah zona kuning atau risiko rendah. Pada level ini, suatu daerah dianggap masuk dalam zona kuning apabila penyebaran Covid-19 dapat terkendali dan tetap ada kemungkinan transmisi,” tuturnya.

Pada situasi ini, beberapa transmisi seperti dari imported case dan tingkat rumah tangga dapat terjadi. Namun kluster penyebaran tersebut dapat terkendali dan tidak bertambah. Sebagai implementasinya, masyarakat dapat beraktivitas di luar rumah dengan protokol kesehatan.

Kegiatan seperti melakukan perjalanan, industri, bisnis, tempat olahraga, pelayanan kesehatan dan kegiatan keagamaan terbatas dapat dilakukan namun tetap dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Selanjutnya, level ketiga adalah zona oranye atau risiko sedang. Secara umum, risiko penyebaran Covid-19 pada level ini tinggi dan potensi virus tidak terkendali. Pada level ini, transmisi lokal hingga imported case kemungkinan dapat terjadi dengan cepat. Pemerintah di daerah harus memantau kluster-kluster baru dan mengontrol pergerakan melalui testing dan tracking yang agresif.

“Oleh karena itu, seluruh masyarakat terutama kelompok rentan yang berada di daerah dengan status zona orange disarankan untuk tetap berada di rumah, bekerja dari rumah kecuali untuk fungsi-fungsi tertentu. apabila harus keluar rumah diwajibkan untuk selalu menjaga jarak di semua aspek,” katanya.

Penumpang transportasi umum dibatasi dan wajib menerapkan protokol kesehatan. Tempat-tempat dan fasilitas umum termasuk sekolah ditutup. Kegiatan bisnis hanya dibuka secara terbatas selain keperluan esensial seperti farmasi, supermarket bahan pokok, klinik kesehatan, stasiun bahan bakar dengan tetap menerapkan physical distancing.

Kategori yang terakhir adalah level keempat atau risiko tinggi. Pada level ini, penyebaran virus sars-cov-2 atau korona jenis baru penyebab Covid-19 tidak terkendali. Transmisi lokal sudah terjadi dengan cepat, wabah menyebar secara luas dan banyak kluster-kluster baru. Pada kondisi ini, pemerintah di daerah wajib melakukan testing yang intensif dan penelusuran kontak secara agresif pada kasus ODP dan PDP.

Dalam keadaan tersebut, masyarakat harus berada di rumah. Aktivitas seperti perjalanan, pertemuan publik, belajar mengajar dan kegiatan keagamaan tidak diperbolehkan. Kegiatan bisnis ditutup kecuali untuk keperluan yang bersifat esensial seperti farmasi, supermarket bahan pokok, klinik kesehatan dan stasiun bahan bakar.

Selain itu, tempat-tempat umum, area publik/keramaian, fasilitas sekolah juga ditutup untuk mencegah dan menghentikan laju penyebaran virus.

Melihat level Kota Subulussalam berada di zona merah, maka kondisi penyebaran covid-19 tidak terkendali, siapapun bisa terpapar. Kunci untuk mencegahnya sebagaimana anjuran pemerintah agar disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan jangan dianggap sepele dan remeh.

“Covid-19 bukanlah penyakit biasa, ini adalah penyakit menular dan telah menjadi pandemi maka penyebarannya pun tanpa batas wilayah dan siapapun bisa terpapar. Langkah penanggulangannya pun dilakukan luar biasa. Memakai masker, mencuci tangan dengan air sabun atau hand sanitizer, menjaga jarak dan menghindari kerumunan adalah upaya untuk menghindari paparan Covid-19,” paparnya.(mha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here