Beranda SUMSEL Kehadiran Rocky Gerung di UIN Raden Fatah Dicekal

Kehadiran Rocky Gerung di UIN Raden Fatah Dicekal

8443
0
BERBAGI

Palembang, Sriwijaya Media- Gelaran sejumlah kegiatan Festival Milenial Limfisa 2019 yang diinisiasi Himpunan Mahasiswa Program Studi (prodi) Aqidah Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah Palembang, termasuk menghadirkan tokoh filsafat Indonesia, Rocky Gerung dan artis Youtube, Feby Putri pada Kamis (24/10/2019) dicekal pihak rektorat.

Padahal gelaran Festival Milenial Limfisa 2019 di kampus UIN Raden Fatah tersebut dihadiri langsung oleh 38 kampus yang ada di Indonesia dan terbuka untuk umum.

“Tentunya kami sangat menyayangkan aksi cekal yang dilakukan pihak kampus. Jelas ini sudah menciderai dan bertentangan dengan Undang-Undang,” kata Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi (HPMPS), Agus Effendi.

Menurut Agus, kegiatan ini mempunyai misi antara lain sebagai ajang promosi brand dan produk, memperkenalkan potensi anak muda negeri, memperkenalkan wisata, makanan khas dan sebagainya.

Selain itu, masih kata dia, krgiatan ini sekaligus memperkenalkan prodi Aqidah Filsafat Islam serta memperkenalkan perkumpulan lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia (LIMFISA).

“Bahwasanya jurusan filsafat ini mempunyai wadah untuk menampung aspirasi mahasiswa. Tapi kenapa kegiatan kami ini tak disupport, “jelasnya.

Dia mengklaim cekalan dari pihak rektorat atas kegiatan ini terlihat dari sebelum hari h kegiatan ini berlangsung.

Seperti surat peminjaman gedung AC (Academic Center) yang diajukan September lalu, namun sampai saat ini tidak kunjung direspon.

“Ya, kehadiran Rocky Gerung menjadi salah satu faktor mimbar pencekalan. Padahal kami tidak menyentuh perpolitikan. Kampus ini merupakan mimbar intelektual dan bukan politik. Masak, sudah 90% kegiatan sudah berjalan, tiba-tiba dicekal ditengah jalan,”terangnya.

Dia berharap pihak kampus dapat kooperatif dan lebih profesional dalam menyikapi tiap kegiatan yang diinisiasi para mahasiswa ini.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Septi Prantina membenarkan adanya upaya dari pihak kampus atas kegiatan ini.

“Saya berulang kali mendapat cekalan dan teror agar segera membatalkan kegiatan ini. Ya, seharusnya tidak boleh seperti itu,” katanya. (abu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here